jawabarattimes - Dedi Mulyadi melakukan tindakan pemberhentian sementara merespon kejadian luar biasa pada program MBG di wilayah Jawa Barat yang memakan korban ribuan siswa.
Program unggulan Pemerintah melalui Makan Bergizi Gratis yang diciptakan untuk memberikan asupan gizi kepada seluruh siswa di Indonesia mengalami kendala. Kasus yang mencoreng citra program unggulan ini terjadi Jawa Barat dimana terjadi peristiwa keracunan masal yang diketahui berasal dari MBG. Keracunan massal ini sudah masuk kedalam tahap kejadian luar biasa yang saat ini menjadi sorota publik dengan total 7.000 siswa. Seperti yang diketahui dan menjadi sorotan publik, kercaunan ini terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat seperti Garut, dan Bandung Barat.
Dari pantauan terakhir daerah Bandung Barat terdapat ratusan pelajar mulai dari jenjang PAUD, SD, SMP sampai SMA jadi korban MBG. Seluruh korban ini mengalami gejala muntah-muntah. mual hingga sakit kepala setelah selesai mengkonsumsi menu makanan MBG di sekolah. Atas kejadian luar biasa yang menelan banyak korban setelah konsumsi MBG, Dedi Mulyadi memberikan perhatian khusu akan berjalannya program tersebut. Dedi Mulyadi menjelaskan pihaknya dibawah naungannya telah melakukan pemanggilan kepada seluruh pihak terkait program unggulan MBG.
Respon Pihak Dedi Mulyadi Terhadap Peristiwa Keracunan
Dedi Mulyadi pada kesempatannya ketika di wawancara menjelaskan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dan memanggil pihak BGN sebagai penanggung jawab program. Kepala program MBG di wilayah Jawa Barat melakukan evaluasi dengan Gubernur Jawa Barat secara terbuka untuk menemukan solusi terbaik. Ketika ditanya mengenai kemungkinan untuk memberikan kebijakan moratorium atau pemberhentian program MBG sementara Dedi Mulyadi enggan memberikan tanggapan. Dedi Mulyadi memberikan pernyataan pihak akan terlebih dahulu berkordinasi dan menanyakan ke pihak BGN tentang persoalan sebab keracunan terjadi.
Dari data yang didapat, peristiwa keracunan awalnya terjadi di Kecamatan Cipongkor dengan korban sebanyak 475 siswa. Lalu pada hari selanjutnya di tempat yang sama terdapat kembali kasus keracunan sebanyak 500 siswa sebagai korban. Untuk yang ketiga terjadi di Kecamatan Cihampelas yang menelan korban sebanyak 60 siswa pada peristiwa kali ini. Dari banyaknya peristiwa yang menelan korban ini Dedi Mulyadi meminta penanganan dilakukan dengan cara komprehensif dan mengedepankan sisi manusiawi.
Bagaimana Kelanjutan Program MBG Di Wilayah Tersebut
Dari peristiwa yang menelan ribuan korban munculah pertanyaan bagaimana kelanjutan soal pendistribusian MGB di kedua wilayah yang terdampak keracunan massal. Perihal terjadinya peristiwa keracunan massal di dua Kecamatan tersebut para orang tua menuntut untuk program MBG dievaluasi dan dihentikan sementara. Orang tua dari siswa yang menjadi korban mengalami trauma ketika anak mereka kembali mengkonsumsi menu makanan program MBG. Pemerintah berupaya untuk merespon tuntutan orang tua korban dengan melakukan percepatan SLHS pada SPPG dalam program MBG tersebut.
Pemerintah menjelaskan setiap SPPG yang sudah mempunyai sertifikan SLHS dapat dipastikan setiap makananan yang disediakan sudah aman dikonsumsi. Dalam surat edaran yang diterbitkan mewajibkan untuk seluruh SPPG yang sudah berdiri untuk mengurus sertifikat SLHS dalam rentan waktu sebulan. Untuk permohonan SPPG baru pihak terkait dalam hal ini pihak BGN dan mitra harus mengurus sertifikat dahulu sebelum berdirinya SPPG. SLHS ini menjadi faktor penting yang harus disediakan bagi seluruh mitra yang hendak mendirikan SPPG.
BACA JUGA ARTIKEL SEBELUMNYA :
Dedi Mulyadi Menjabat Dengan Kebijakan Populis